Pemberdayaan Aset Keagamaan Masyarakat Melalui Pendampingan Pembelajaran TPQ Untuk Penguatan Pendidikan Keagamaan Anak di Desa Pagerukir

Authors

  • Miftakhul Jannah Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
  • Ibnu Muchlis Nu Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Keywords:

Pendidikan keagamaan

Abstract

Desa Pagerukir memiliki kondisi keagamaan masyarakat yang pada dasarnya cukup mendukung, ditandai dengan keberadaan guru TPQ yang aktif mengajar, anak-anak usia sekolah dasar yang jumlahnya cukup banyak, serta mushola dan ruang keagamaan belajar yang representatif sebagai aset keagamaan—guru TPQ, partisipasi anak didik, dan sarana fisik—yang sering kali belum dioptimalkan untuk memperkuat pendidikan keagamaan anak di wilayah pedesaan. Sebelum dilakukan pendampingan, antusiasme anak terhadap kegiatan TPQ tergolong rendah akibat metode pengajaran yang monoton dan fokus pada kegiatan membaca, sementara penguasaan bacaan salat, hafalan surat-surat pendek, dan tata cara wudhu masih belum optimal. Bertolak dari kondisi tersebut, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan aset keagamaan yang dimiliki, menyusun serta menerapkan strategi pendampingan pembelajaran TPQ yang lebih variatif dan interaktif, dan mengetahui dampaknya terhadap minat serta kemampuan keagamaan anak, dengan menerapkan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD). Metode yang digunakan adalah penelitian lapangan bersifat deskriptif kualitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Pendampingan dilaksanakan secara terstruktur mengikuti lima tahapan ABCD, yaitu Discovery (identifikasi aset keagamaan berupa guru, anak didik, dan sarana ibadah), Dream (merumuskan harapan bersama guru TPQ untuk pembelajaran yang lebih menarik), Design (merancang strategi pembelajaran variatif berdasarkan prinsip Active Learning dan Social Learning Theory), Define (menyusun langkah nyata berupa melakukan gerakan salat secara terbimbing, Latihan hafalan, memicu wudhu, icebreaking, dan permainan edukatif), serta Destiny (pelaksanaan pendampingan secara berkelanjutan disertai evaluasi dampaknya). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang nyata pada antusiasme dan partisipasi aktif anak, disertai perbaikan yang terukur dalam hafalan, amalan shalat, dan tata cara wudhu. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan pendidikan keagamaan anak tidak hanya bergantung pada keberadaan aset masyarakat, tetapi juga kapasitas pada dan pendamping masyarakat dalam memobilisasi aset tersebut melalui metode pembelajaran yang menarik, adaptif, dan responsif terhadap karakteristik anak.

Downloads

Published

2026-05-05