Pemberdayaan Komunitas Muslim Perbukitan Melalui Program Sosial Bank Indonesia di Kaur Bengkulu

  • Arik Dwijayanto

Abstract

Abstrak

Penelitian ini mengkaji pola pemberdayaan komunitas muslim perbukitan di Kabupaten Kaur, Bengkulu dalam memanfaatkan dan mengolah batu alam melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI). Dari proses operasionalisasinya, pola pemberdayaan memiliki dua kecenderungan: pertama, kecenderungan primer, yaitu kecenderungan proses yang memberikan atau mengalihkan sebagian kewenangan dan kemampuan kepada masyarakat atau individu menjadi lebih berdaya.Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun asset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi; dan kedua, kecenderungan sekunder, yaitu kecenderungan yang menekankan pada proses memberikan stimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data perpustakaan, lapangan, dan wawancara. Hasil temuan dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Bank Indonesia melalui program sosialnya menggunakan pendekatan pertama dan kedua dalam pemberdayaan masyarakat perbukitan dengan memberikan bantuan peralatan dan juga ketrampilan serta tenaga ahli dalam pengolahan batu agate sehingga berdaya saing tinggi.

Kata Kunci:Pemberdayaan, Efektifitas, Program Sosial, Bank Indonesia

 

Abstract

This study examines the pattern of hilly muslim community empowerment in Kaur Regency, Bengkulu in utilizing and processing natural stone through PSBI(Corporate Social Responsibility of Bank Indonesia). Based on its operational process, the empowerment pattern has two tendencies: first, the primary tendency, namely the process that provides benefits and abilities for the community or individual to become more empowered. This process can be multiplied by efforts to build material assets to encourage the development of their abilities through the organization; and second, secondary tendency, namely the tendency to focus on the process of stimulating, encouraging or motivating individuals to have the ability or empowerment to determine what is chosen through the process dialogue. This study uses qualitative methods by collecting library data, fields, and interviews. The results of this research conclude that Bank Indonesia through its social program uses the first and second approaches in community empowerment by providing equipment assistance, skills and experts in agate stone processing from highly competitive provinces.

Keywords:Empowerment, Effectiveness, CSR, BI

 

Referensi

Bank Indonesia. 2014.Obor Para Pelopor: 24 Gugus Kisah Asa Indonesia, Laporan PSBI.

Belle, Ruth Witkin. 1984. Assessing Needs in Educational and Social Programs.   London: Jossey-Bass Publisher.

Budi Untung,Hendrik. 2008.  Corporate Social Responsibility. Jakarta: Sinar Grafika.

Hurairah, Abu. 2008. Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat. Bandung: Humaniora.

Pemerintah Kabupaten Kaur. 2013. Usaha Pengembangan Batu Agate Kabupaten Kaur.

Ritawati, RA dan Mubarok, Nurul. 2015. “Efektifitas Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) terhadap UMKM di Kota Palembang”, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang,I-Economics Journal, Vol. 1. No. 1.

Teguh, Ambar Sulistyani. 2004. Kemitraan dan Model-model Pemberdayaan. Yogyakarta: Gaya Gava Media. 

Susanto. 2009. Reputation-Driven Corporate Social Responsibility Pendekatan Strategic Management dalam CSR. Jakarta: Esensi Erlangga Group.

Trianita, Kurniati & Rahmatullah. 2011. Panduan Praktis Pengelolaan CSR   (Corporate Social Responsibility).Yogyakarta: Samudra Biru.

Widayanti, Sri. 2012. “Pemberdayaan Masyarakat: Pendekatan Teoritis”, Welfare, Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni.

Yusuf, Wibisono. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascho  Publishing.

 

Wawancara

  1. Rizal, salah satu pengrajin batu agate di Pusat Agro Industri Pondok Pusaka, Kabupaten Kaur pada 15 November 2014.
  2. Edi, salah satu pengrajin batu agate di Pusat Agro Industri Pondok Pusaka, Kabupaten Kaur pada 15 November 2014.
  3. Jon Sirwan, Ketua Koperasi Teratai Indah Muara Sahung, Kabupaten Kaur pada 15 November 2014.
  4. Miri, penambang batu alam di Ulak Bandung, Muara Sahung pada 15 November 2014.
  5. Mendri, penambang batu alam di Ulak Bandung, Muara Sahung pada 15 November 2014.
  6. Khusairi, penambang batu alam dari Surakarta yang berdomisili sejak tahun 1983 di Ulak Bandung, Muara Sahung pada 15 November 2014.
Published
2018-12-03