PROSES PERALIHAN KEKUASAAN DAN KEBIJAKSANAAN DALAM PEMERINTAHAN KHULAFAURRASYIDIN

  • Kadenun Kadenun Kadenun IAI Sunan Giri Ponorogo
Keywords: Power, Political leadership, Wisdom, Khulafaur Rasyidin, Kekuasaan, Politik kepemimpinan, Kebijaksanaan

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the results of the succession of the Khulafaur Rashidin government, starting with the election of Abu Bakr, Umar bin Khotob, Ustman bin Affan and Ali bin Abi Tholib. The method used in this literature research is carried out by examining the concepts and theories used based on the available literature, including articles published in scientific journals containing theories relevant to research problems. The results of this research that Abu Bakr as caliph was carried out through deliberations of the friends at Saqifah Bani Saidah. His election as caliph was because of his seniority, his closeness to the Prophet Muhammad, was considered capable of solving complex and complex problems, moderate, lots of experience, and wise. The election of Umar was to continue the military expansion of the two superpowers (Persia and Rome) and Syria as a power base to carry out further expansion, such as to Egypt and Iraq. In his domestic political policy, Umar created a modern administrative system in all fields. Uthman became caliph, it can be said that it was relatively uneasy and smooth, because it was carried out through long deliberations of senior friends with their fear of divisions among Muslims after Umar's leadership. The appointment of the Caliph Ali, was carried out without deliberation, but it was sufficient for the majority of the Muslims, both from the Muhajirin and the Ansar, to do this so that there would be no more chaos at that time. Finally, on June 23, 656 AD, he was persecuted by the majority of the Muslims at the Nabawi Mosque in Medina, to become a caliph.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalis hasil suksesi pemerintahan masa khulafaurrosyidin, mulai Pemilihan Abu Bakar, Umar bin Khotob, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib. Metode yang digunakan dalam penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan mengkaji mengenai konsep dan teori yang digunakan berdasarkan literatur yang tersedia, yang diantaranya artikel-artikel yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang berisi teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah penelitian. Hasil Penelitian ini Abu Bakar sebagai khalifah dilakukan melalui musyawarah para shahabat di Saqifah Bani Saidah. Terpilihnya beliau sebagai khalifah, karena senioritas, kedekatannya dengan Nabi Muhammad Saw, dianggap mampu  untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks dan rumit, moderat, banyak pengalaman, dan bijaksana. Terpilihnya Umar yaitu melanjutkan ekspansi militer terhadap dua emperium adidaya (Persia dan Romawi) dan Syria dijadikan sebagai basis kekuatan untuk menjalankan ekspansi selanjutnya, seperti ke Mesir dan Irak. Kebijakan politik dalam negerinya, Umar membuat sistem administrasi modern di segala bidang. Utsman menjadi khalifah, dapat dikatakan relatif tidak mulus dan lancar, karena dilakukan melalui musyawarah yang panjang dari para shahabat senior dengan kekhawatiran mereka akan terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam setelah kepemimpinan Umar. Pengangkatan khalifah Ali, dilaksanakan tanpa musyawarah, tetapi cukup dilakukan manyoritas kaum muslimin, baik dari kaum Muhajirin maupun Anshar, ini dilakukan supaya tidak terjadi kekacauan lebih besar lagi pada waktu itu. Akhinya, pada 23 Juni 656 M. beliau dibai’at oleh manyoritas kaum muslimin di Mesjid Nabawi kota Madinah, untuk menjadi seorang khalifah.

Published
2021-03-13
Abstract views: 121 , PDF downloads: 162